iBenews.id - Konflik bersenjata yang melibatkan Iran kini memberikan dampak tak terduga bagi peta industri di Asia, gangguan pasokan minyak dan petrokimia dari Timur Tengah telah memicu kelangkaan bahan baku plastik global, yang secara mengejutkan justru mempercepat transisi ke kemasan ramah lingkungan (eco-friendly) di wilayah tersebut.
Lonjakan harga plastik yang mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir memaksa banyak perusahaan manufaktur mencari alternatif, salah satu yang mendapat berkah adalah Yonwoo, produsen kemasan kosmetik asal Korea Selatan.
Mereka melaporkan adanya kenaikan permintaan hingga tiga kali lipat untuk produk berbasis kertas, manajer Senior perusahaan induk Kolmar Korea, Kim Min-sang, mengungkapkan bahwa fenomena ini melampaui sekadar tren keberlanjutan, kepada Reuters pada (15/4), Kim menyatakan:
Baca Juga: Catatan Sugiyanto: Buku Saku Wajib Kepala Daerah
"Awalnya, minat datang dari perusahaan-perusahaan yang fokus pada keberlanjutan... tetapi jika masalah plastik ini berkepanjangan, kami memperkirakan permintaan akan semakin meningkat".
Asia merupakan wilayah dengan tingkat konsumsi plastik tertinggi di dunia, data OECD menunjukkan bahwa China, Jepang, Korea Selatan, dan Asia Tenggara secara kolektif mengonsumsi hampir sepertiga pasokan plastik global pada tahun 2022.
Ketergantungan yang besar pada impor bahan baku dari Timur Tengah membuat kawasan ini sangat rentan terhadap gejolak politik di wilayah tersebut, di Jepang para grosir mulai memperingatkan potensi hilangnya nampan dan kantong plastik dari peredaran.
Baca Juga: Kasus Penggelapan Uang Hasil Kopi di Kepahiang, Menantu Diduga Gunakan Dana untuk Gaya Hidup
Produsen besar seperti Mitsubishi Chemical dan Sanipak bahkan berencana menaikkan harga sekitar 30% dalam waktu dekat untuk menutupi kenaikan biaya produksi.
Krisis ini juga memberi napas baru bagi perusahaan inovatif seperti Lastic asal Taiwan yang memproduksi bahan biodegradable berbasis bambu, setelah sempat kehilangan minat dari pasar Amerika Serikat akibat kebijakan tarif di era Donald Trump, kini pembeli internasional mulai kembali melirik produk mereka karena harga plastik yang tak lagi kompetitif.
Luke Anderson, Manajer Pengembangan Senior Lastic, mencatat adanya perubahan tren ini dengan nada optimis. "Bukannya saya senang melihat sisi positif dari perang, tetapi... jika Anda tidak bisa mengendalikannya, Anda harus menemukan hikmah di baliknya," ujarnya.
Baca Juga: Konser BTS di Goyang Raih Rating Tinggi dari NME, Soroti Perpaduan Tradisi dan Teknologi
Beberapa perusahaan mulai melakukan langkah darurat, di Malaysia produsen susu Farm Fresh telah beralih sementara ke karton susu berbasis kertas demi menjaga kelancaran distribusi.
Meski demikian, transisi ini tidak mudah bagi semua pihak, Gaone International dari Korea Selatan, yang memproduksi kemasan masker wajah, terpaksa memangkas produksi harian hingga 80% karena kesulitan menemukan pemasok bahan alternatif yang sesuai dengan standar teknis mereka.
Artikel Terkait
Temui Dubes Palestina, Menag Tawarkan Dana Umat untuk Aksi Kemanusiaan Lintas Negara
Safari Diplomasi Lanjut, Prabowo Tempuh 4 Jam Perjalanan dari Moskow ke Paris
Soroti Isu HAM di Palestina, Lee Jae Myung Tekankan Pentingnya Akuntabilitas Internasional
Iran Tegas Tolak Rencana Blokade Selat Hormuz oleh AS
NASA Alokasikan 20 Miliar Dolar AS untuk Pembangunan Pangkalan Permanen di Bulan